Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



NEW YORK. Minyak mentah menguat dan diperdagangkan dikisaran harga US$ 65 per barel. Kenaikkan harga minyak terjadi seiring peningkatan intensitas kekerasan bersenjata di Timur Tengah.

Minyak Brent untuk pengiriman Juli 2015 diperdagangkan di harga US$ 65,61 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Nilai itu naik 9 sen pada pukul 1.49 p.m waktu Singapura.

Sementara hanya minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2015, naik 16 sen menjadi US$ 59,88 per barel dalam perdagangan New York Mercantile Exchange.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh aksi Perdana Menteri Irak, yang berjanji untuk mengambil alih Kota Ramadi secepatnya dari tangan ISIS. Janji juga diungkapkan oleh Raja Arab Saudi, King Salman, untuk menghukum ISIS setelah ada aksi bom bunuh diri yang ditujukan kepada Syiah.

Harga minyak juga naik, menunggu keputusan suplai minyak OPEC yang akan melakukan pertemuan pada 5 Juni 2015 mendatang. "Kemungkinan OPEC masih akan mempertahankan tingkat produksinya," kata David Lennox, analis Fat Prophets di Sydney, seperti dikutip Bloomberg.

Editor: Uji Agung Santosa
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Penjualan alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) merosot tajam. Dalam empat bulan pertama tahun ini, UNTR hanya mampu menjual 966 unit alat berat Komatsu. Jumlah itu turun hingga 38,7% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.577 unit.

"Khusus di bulan April, penjualan Komatsu sebesar 203 unit dengan market share hingga April sebesar 37%," ujar Ari Setiyawan, Investor Relation UNTR, dalam laporannya, Senin (25/5). Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penjualan di Bulan April ini merosot hingga 41%.

Sektor tambang masih tetap menjadi kontributor terbesar yaitu 34% dari penjualan. Meski demikian, presentasenya merosot jika dibandingkan kontribusi sektor ini ke penjualan tahun lalu sebesar 36%. Lalu sektor kehutanan menyumbang 24% dari total penjualan. Sementara sektor konstruksi dan perkebunan menyumbang penjualan masing-,masing 29% dan 13%.

"Karena pelemahan harga komoditas, kami tidak memprediksi adanya kenaikan dari sektor batubara," ujar Ariyanto Kurniawan, Analis Mandiri Sekuritas dalam risetnya, Senin (25/5).

Bukan cuma penjualan dari alat berat yang melambat. Produksi batubara dan tingkat penggalian tanah penutup atau overburden removal juga masih seret. Pada bulan April 2015, produksi batubara UNTR turun menjadi 9 juta ton atau merosot 7% dibandingkan bulan sebelumnya. Jumlah itu juga turun 9% jika dibandingkan dengan penjualan pada bulan April tahun lalu. Sejak awal tahun, produksi batubara UNTR turun 8% year on year (yoy) menjadi 34 juta ton.

Sedangkan tingkat overburden removal melambat menjadi 63 juta bank cubic meters (bcm) pada bulan April. Sejak awal tahun, produksi overburden removal turun hingga 12% yoy menjadi 237,9 bcm karena masih turunnya harga batubara.

Lalu, penjualan batubara UNTR di bulan April menjadi penjualan terendah sepanjang enam bulan terakhir, atau hanya mencapai 298.000 ton. Sepanjang tahun ini, penjualan batubara UNTR baru mencapai 2 juta ton, turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 2,3 juta ton.

Tahun ini, perseroan memangkas target penjualan batubara sampai 50% dari realisasi penjualan tahun lau yang sebesar 6 juta ton batubara. Sehingga, volume penjualan batubara UNTR tahun ini hanya ditargetkan sebesar 3 juta ton.

Produksi batubara itu berasal dari tiga tambang UNTR, yakni PT Asmin Bara Bronang (ABB), PT Turangga Agung (TTA), dan PT Duta Nurcahya (DN). Tambang TTA dan DN akan berproduksi dengan skala paling minimal. Sementara dari tambang Asmin, UNTR berharap bisa menjual 2 juta ton batu bara.

Untuk rekomendasi saham, Ariyanto masih mengkaji kembali rekomendasi dan target harga UNTR. Saat ini, saham UNTR bergerak turun 2,69% ke level Rp 22.650 per saham.

Editor: Uji Agung Santosa

Narasumber :  kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Giatnya China dalam menginisiasi penggunaan energi ramah lingkungan menjadi bumerang bagi harga batubara di pasar global. Efeknya, analis menduga sulit berharap harga batubara mengalami penguatan signifikan di masa mendatang.

Mengutip Bloomberg, Jumat (22/5) harga batubara kontrak pengiriman Juni 2015 di ICE Futures Europe tercatat bergerak stagnan di level US$ 57,05 per metrik ton sama dengan hari sebelumnya. Pada Senin (25/5) pasar Eropa tidak melakukan perdagangan. Begitu pun dalam sepekan terakhir harga batubara merosot 1,70%.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Komoditi Ekuilibrium Berjangka menjelaskan bahwa keadaan batubara saat ini dikelilingi oleh sentimen negatif. Pasalnya selain harus berhadapan dengan perekonomian global yang lesu, juga terseret isu lingkungan.

“China sebagai produsen dan konsumen penting batubara sedang menggalakkan penggunaan energi ramah lingkungan,” kata Ibrahim. Ini membuat China lebih selektif memilih batubara yang digunakan yakni dengan kalori di atas 6.000. Padahal saat ini yang beredar di pasar mayoritas adalah batubara dengan kualitas standar atau di bawah 5.000.

Tidak hanya itu, keputusan China untuk menjalin kerja sama dengan Rusia dalam membangun kilang cadangan gas juga menjadi sinyal yang buruk bagi batubara. Seperti yang diketahui, penggunaan batubara untuk pembangkit listrik kini banyak dialihkan menjadi gas alam. Sebabnya, gas alam memiliki efek minim terhadap lingkungan.

“Apalagi jika melihat harga gas alam yang terus turun, maka pelaku pasar jelas memilih untuk beralih,” kata Ibrahim.
Berkaca pada hal ini, Ibrahim menilai sulit bagi harga batubara untuk kembali menguat dalam waktu dekat. Harga bisa saja semakin terpuruk di masa mendatang.

Editor: fifi
Sumber: Kontan

Narasumber : tribunnews.com
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA—Harga CPO di Bursa Malaysia pada Senin (25/5/2015) rebound dari level terendah 3 pekan terdorong oleh depresiasi tajam ringgit.

Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, menguat 0,28% ke 2.141 ringgit atau sekitar Rp7,81 juta per ton menjelang penutupan.

Komoditas tersebut berbalik menguat setelah dibuka turun 0,61% ke 2.122 ringgit per ton dan bergerak pada kisaran 2.121–2.151 ringgit per ton.

Harga CPO mulai menanjak pada tengah hari seiring pelemahan nilai tukar ringgit. Ringgit hari ini ditutup terdepresiasi 0,88% setelah ditutup menguat pada 2 hari sebelumnya.

Ringgit yang lemah membuat perdagangan CPO di Bursa Malaysia lebih menarik bagi investor asing.

CPO menguat di saat harga minyak mentah dan minyak kedelai merosot. Minyak jenis WTI hari ini turun hingga 1,04%, sedangkan minyak kedelai ditutup anjlok 1,89% ke US$31,69/pound pada Jumat pekan lalu.

 

Pergerakan Harga Kontrak CPO Agustus 2015

 

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Persentase Perubahan

25/5/2015

(16.59 WIB)

2.141

+0,28%

22/5/2015

2.135

-1,07%

21/5/2015

2.158

+0,75%

20/5/2015

2.142

-0,74%

19/5/2015

2.158

-1,10%

 

Sumber: Bloomberg


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Penurunan cukup dalam yang terjadi pada harga timah diduga masih akan terus berlangsung hingga pekan depan.

Mengutip Bloomberg, Kamis (21/5) harga timah kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange ditutup merosot 1,55% ke level US$ 15.800 per metrik ton atau menjadi level terendah dalam lima pekan. Dalam sepekan terakhir pun harga timah masih turun tipis 0,31%.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Komoditi Ekuilibrium Berjangka menjelaskan bahwa tekanan yang menyeret harga adalah masih buruknya data manufaktur China dan penjualan rumah di Amerika Serikat. Sebagai komoditas yang banyak digunakan untuk pembangunan, keadaan ekonomi yang loyo ini jelas menekan harga.

“Dengan buruknya ekonomi China saat ini, maka China jelas akan memilih untuk mengeksplorasi penggunaan timah dalam negeri,” jelas Ibrahim. Perlu diingat, selain sebagai konsumen utama, China juga merupakan salah satu produsen besar timah. Ketika China memilih eksplorasi dalam negeri untuk menekan impor, maka stok timah global akan membludak.

Sebelumnya pada Kamis (21/5) rilis data HSBC Manufaktur China April 2015 tercatat naik menjadi 49,1 dari sebelumnya 48,9. Angka ini masih di bawah level 50 yang artinya ekonomi China masih berkutat dalam resisi.

Selain itu, data penjualan rumah China bulan April juga menunjukkan terjadinya perlambatan di 69 dari 70 kota China. Padahal sebelumnya di bulan Maret perlambatan hanya terjadi di 60 dari 70 kota. “Data ini memperlihatkan bagaimana gejolak ekonomi China yang sedang dalam keadaan terlemahnya,” kata Ibrahim.

Tidak hanya China, data existing home sales AS bulan April 2015 juga menurun dari bulan sebelumnya yakni 5,21 juta menjadi 5,04 juta. Selain data klaim pengangguran mingguan AS juga kembali membludak dari minggu sebelumnya 264 ribu menjadi 274 ribu. Yang bisa diartikan bahwa ekonomi AS juga belum sepenuhnya prima dan akan menekan permintaannya di pasar.

“Belum lagi Eropa dengan masalah Yunaninya,” kata Ibrahim. Keadaan Eropa yang belum jelas ini membuat posisi euro masih tertekan di pasar. Apalagi dengan adanya sinyal bahwa European Central Bank bisa saja kembali menggelontorkan stimulus dalam jumlah besar. Pasar menilai ekonomi Eropa juga sedang krisis.

Ibrahim menduga pada akhir pekan ini atau penutupan pasar Jumat (22/5), harga timah masih akan berada di level bawah. Penurunan tidak bisa dihindari. Bahkan tidak hanya pada pekan ini tapi bisa saja terus berlangsung hingga pekan depan.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita