- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1806
Bisnis.com, JAKARTA—Potensi kenaikan konsumsi selama Ramadan masih mendorong harga CPO di Bursa Malaysia pada Rabu (27/5/2015).
Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka naik 0,32% ke harga 2.192 ringgit atau Rp7,98 juta per ton.
Harga komoditas tersebut meneruskan penguatan setelah kemarin melonjak 2,20%. CPO diperdagangkan naik 0,37% ke harga 2.193 ringgit per ton pada pukul 10.06 WIB.
Data Intertek menunjukkan ekspor sawit Malaysia melonjak 53% pada 1–25 Mei 2015 dari bulan sebelumnya menjadi 1,38 juta ton.
Ekspor sawit dari Indonesia juga naik 11% ke 2,25 juga ton pada April dari 2,03 juta ton pada Maret. Volume ekspor tersebut adalah yang terbanyak sejak November 2014.
Kenaikan ekspor menjadi indikasi kenaikan permintaan CPO menjelang musim konsumsi tinggi di negara-negara muslim pada bulan puasa dan Lebaran.
Pergerakan Harga Kontrak CPO Agustus 2015
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
27/5/2015 (10.06 WIB) |
2.193 |
+0,37% |
|
26/5/2015 |
2.185 |
+2,20% |
|
25/5/2015 |
2.127 |
-0,37% |
|
22/5/2015 |
2.135 |
-1,07% |
|
21/5/2015 |
2.158 |
+0,75% |
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2145
WASHINGTON. Wakil Ketua Federal Reserve (The Fed) Stanley Fischer menuturkan para pembuat kebijakan akan mempertimbangkan pertumbuhan global ketika akan menaikkan kebijakan suku bunga. Mereka bisa mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga secara bertahap jika nantinya perekonomian dunia menjadi goyah.
"Jika pertumbuhan asing lebih lemah ini memberikan konsekuensi bagi perekonomian AS," kata Fischer dalam pidatonya di Tel Aviv University.
Mantan Gubernur Bank of Israel itu menjelaskan The Fed akan mempertimbangkan bagaimana menaikkan suku bunga akan mempengaruhi negara-negara lain. Sementara pengetatan mungkin akan menyebabkan dampak bagi perekonomian, The Fed bekerja sama untuk berkomunikasi guna kelancaran transisi, dan pasar negara-negara berkembang berada dalam kondisi yang lebih baik untuk bertahan dibandingkan pada tahun-tahun terakhir.
Pembuat kebijakan Fed tengah bersiap menaikkan suku sejak Desember 2008. Ketua The Fed Janet Yellen mengatakan pada pekan lalu bahwa dia masih mengharapkan kenaikan suku bunga pada tahun ini jika pertumbuhan ekonomi AS sesuai dengan perkiraan nya, dengan diikuti laju pengetatan secara bertahap.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2124
NEW YORK. Harga minyak dunia jatuh pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena sebagian besar pedagang mengambil isyarat mereka dari dollar AS yang berbalik menguat dan produksi minyak yang tetap tinggi, kata para dealer.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, berakhir turun 1,69 dollar AS dari tingkat penutupan Jumat menjadi 58,03 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk Juli kehilangan 1,80 dollar AS, menjadi menetap di 63,72 dollar AS per barel.
Dollar menguat ke tertinggi baru delapan tahun 123,3 yen pada Selasa, sedangkan euro tergelincir menjadi 1,0875 dollar, tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran tentang pembicaraan dana talangan (bailout) Yunani karena batas waktu pelunasan semakin dekat.
"Harga minyak mentah masih di bawah tekanan karena dollar AS melanjutkan momentum kenaikannya yang kuat," kata Myrto Sokou, analis energi senior di broker Sucden di London.
Semakin kuat greenback, membuat minyak mentah lebih mahal untuk pembeli yang menggunakan mata uang lemah.
Bart Melek dari TD Securities juga mencatat bahwa produksi kartel OPEC, pada lebih dari 31 juta barel per hari, masih memproduksi lebih dari batas kuotanya, mempertahankan pasokan pasar tetap berlimpah.
"Faktor lain selain dollar AS, adalah bahwa ada kekhawatiran tentang sisi permintaan terutama dari Asia, secara khusus Tiongkok," kata dia.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2112
Bisnis.com, JAKARTA—Harga minyak sawit di Bursa Malaysia menguat tajam di awal perdagangan Selasa (26/5/2015) berbarengan dengan lonjakan harga minyak kedelai.
Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka naik 0,84% ke harga 2.156 ringgit atau Rp7,85 juta per ton.
Harga komoditas tersebut meneruskan penguatan kemarin dan naik 1,31% ke harga 2.166 ringgit atau Rp7,90 juta per ton pada pukul 09.59 WIB.
Kenaikan tajam harga CPO berbarengan rebound tajam harga kontrak minyak kedelai di pasar komoditas Chicago. Harga kontrak minyak kedelai untuk pengiriman Agustus 2015 diperdagangkan naik 1,42% ke US$32,14/pound pada pukul 09.59 WIB.
Minyak kedelai adalah bahan subtitusi utama CPO sebagai emulsi dalam produksi makanan olahan, kosmetik, dan produk konsumer lain.
Depresiasi ringgit setelah menguat pada 2 hari terakhir pekan lalu juga menopang harga CPO di Bursa Malaysia. Ringgit kemarin ditutup melemah 0,84% dan diperdagangkan turun 0,14% ke 3,6195 per dolar AS pada pukul 10.13 WIB.
Pergerakan Harga Kontrak CPO Agustus 2015
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
26/5/2015 |
2.166 |
+1,31% |
|
25/5/2015 |
2.127 |
-0,37% |
|
22/5/2015 |
2.135 |
-1,07% |
|
21/5/2015 |
2.158 |
+0,75% |
|
20/5/2015 |
2.142 |
-0,74% |
|
19/5/2015 |
2.158 |
-1,10% |
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1804
JAKARTA. Isu peralihan penggunaan energi ke energi ramah lingkungan menjadi penekan utama harga batubara global di pasar. Analis menduga, harga batubara masih terpuruk di masa depan.
Mengutip Bloomberg, Jumat (22/5) harga batubara kontrak pengiriman Juni 2015 di ICE Futures Europe tercatat bergerak stagnan di US$ 57,05 per ton dari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir harga batubara merosot 1,7%.
Ibrahim, Analis dan Direktur PT Komoditi Ekuilibrium Berjangka, menjelaskan, keadaan batubara saat ini dikelilingi sentimen negatif. "China sebagai produsen dan konsumen penting batubara sedang menggalakkan penggunaan energi ramah lingkungan," kata dia.
Tiongkok lebih selektif memilih batubara yang digunakan, yakni kalori di atas 6.000 kkal. Padahal mayoritas yang beredar di pasar adalah batubara kualitas standar atau di bawah 5.000 kkal.
Terlebih di Amerika Serikat (AS) sedang menurunkan penggunaan batubara. Ini tertera dari pernyataan Presiden AS Barack Obama Jumat (22/5) menyebut AS siap menurunkan penggunaan batubara.
Data EIA Februari 2015 menyatakan, penggunaan batubara AS untuk pembangkit tenaga listrik tinggal 37%, menurun dari 50% di 2007. Belum lagi resesi ekonomi China tak kunjung usai membuat permintaan impor negara ini terus surut. "Efeknya, China lebih fokus mengeksplorasi tambang dalam negeri daripada impor," ujar Ibrahim.
Tak hanya itu, keputusan China untuk menjalin kerjasama dengan Rusia dalam membangun kilang cadangan gas menjadi sinyal buruk bagi batubara. Seperti, penggunaan batubara pembangkit listrik dialihkan menjadi gas alam.
Volume menciut
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, menjelaskan akibat kondisi tersebut pada Januari-April 2015 produksi batubara Indonesia hanya sekitar 130 juta ton, lebih rendah 11,56% dibanding periode sama di 2014.
Produsen batubara, Australia juga mengalami hal sama. Ekspor batubara Australia anjlok karena kurangnya permintaan. "Bahkan tersiar kabar pada tahun 2017 Indonesia akan menghentikan ekspor batubara akibat minimnya permintaan," kata Deddy.
Kondisi teknikal harga batubara tak jauh beda. Saat ini harga batubara bergerak di bawah moving average (MA) 100 dan 200 mengindikasikan penurunan. Moving average convergence divergence (MACD) di minus 0,07 bergerak ke bawah. Begitu juga stochastic di 10 dan relative strength index (RSI) di 41 yang juga bergerak menurun.
Prediksi Deddy, Selasa (26/5), harga batubara di level US$ 56,75-US$ 57,45 per ton dan sepekan ke depan di US$ 56,50-US$ 57,80 per ton. "Selasa (26/5) bergerak di US$ 56,50-US$ 57,10 per ton dan sepekan mendatang US$ 56,00-US$ 57,20 per ton," proyeksi Ibrahim.

















Semua Berita