- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 1762
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat pada kuartal I/2015 turun sebesar 0,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Penurunan ini dipicu menguatnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang sehingga menyebabkan kenaikan volume barang impor.
Ekonom dari Markit, Chriss Williamson mengatakan belanja konsumen menyumbang perlambatan ekonomi di AS sebesar 1,8 persen di kuartal I/2015. Selain itu, dia juga menyoroti adanya dampak dari ekspor yang lemah dan belanja pemerintah di kuartal II/2015.
"Rebound pada kuarter II/2015 akan menjadi penting dalam menentukan langkah pertama Fed mengenai suku bunga."ujar Williamson dilansir BBC News, Jumat (29/5).
Posisi dolar AS yang menguat telah mendorong impor dan menurunkan ekspor. Adanya revisi PDB mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman dan tradisional, seperti obligasi. Hal ini menyebabkan imbal hasil obligasi AS jatuh karena harganya meningkat.
Reporter : rizky jaramaya
Redaktur : Ani Nursalikah
Narasumber : republika.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2273
SINGAPURA. Harga minyak dunia ditransaksikan naik pada akhir pekan ini (29/5). Berdasarkan data Bloomberg, pagi tadi, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengantaran Juli naik sebesar 76 sen menjadi US$ 58,44 per barel di New York Mercantile Echange. Pada pukul 11.44 waktu Sydney, harga kontrak yang sama diperdagangkan di posisi US$ 58,33 sebarel.
Pada Kamis (28/5) kemarin, harga kontrak minyak WTI naik 17 sen menjadi US$ 57,68 sebarel. Sepanjang bulan ini, harga minyak turun 2,2% setelah reli 25% pada April.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh turunnya cadangan minyak AS yang sekaligus memberikan sinyal tingginya pasokan minyak akan berkurang.
Sekadar tambahan informasi, data Energy Information Administration menunjukkan, cadangan minyak AS turun sebesar 2,8 juta barel menjadi 479,4 juta barel pada pekan yang berakhir 22 Mei lalu. Sementara itu, menurut Libya, Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) akan mempertahankan target produksinya pada pertemuan di Vienna, 5 Juni mendatang.
"Fakta bahwa produksi AS masih sangat tinggi menjadi situasi yang harus diperhatikan. Sepertinya, belum ada aksi apapun dari OPEC dalam waktu dekat ini," papar Ric Spooner, Chief Analyst CMC Markets di Sydney.
Di sisi lain, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran Juli naik sebesar 65 sen atau 1% menjadi US$ 63,23 per barel di ICE Futures Europe exchange.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2093
DRESDEN. Managing Director Badan Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde kepada surat kabar Jerman mengatakan bahwa ada kemungkinan Yunani hengkang dari zona Eropa. Namun, ini bukan menandakan berakhirnya zona Eropa.
"Keluarnya Yunani dari Eropa merupakan sebuah kemungkinan," jelas Lagarde, seperti yang dikutip oleh Frankfurter Allgemeine Zeitung.
Dia menjelaskan, langkah tersebut mungkin bukan pilihan indah dan bukan menjadi akhir dari keberadaan zona Eropa.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2251
JAKARTA. Harga emas kembali memudar karena penguatan dollar Amerika Serikat (AS). Dampaknya, harga emas kesulitan menanjak lebih jauh lagi.
Mengutip Bloomberg, kontrak pengiriman emas bulan Agustus 2015 di Commodity Exchange pada Rabu (27/5) pukul 17.00 WIB senilai US$ 1.188,40 per ons troi atau rebound tipis 0,05% dibandingkan hari sebelumnya. Tapi sepekan terakhir, harga emas sudah tergerus 1,76%.
Ariston Tjendra, Head of Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, menjelaskan, emas terguncang oleh dua faktor. Pertama, jatuh tempo utang Yunani bulan Juni senilai € 6,5 miliar semakin dekat. Dari jumlah utang tersebut, sebanyak € 1,5 miliar merupakan utang Yunani ke Dana Moneter Internasional (IMF). “Ketidakpastian Yunani mendorong penguatan dollar AS. Para analis belum dapat memprediksi skema terburuk apabila Yunani gagal bayar (default),†terang Ariston.
Kedua, penguatan dollar berkat pernyataan petinggi Bank Sentral AS, The Federal Reserve seperti Janet Yellen dan Stanley Fischer yang menegaskan, kenaikan suku bunga tetap akan dilakukan tahun ini. Kemarin indeks dollar AS di level 97,3020 naik dibandingkan dua hari sebelumnya 96,0140.
Harga emas masih rawan koreksi hingga data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal I-2015 dirilis di akhir pekan. Pada penghitungan kedua, PDB AS diperkirakan minus 0,9% atau lebih rendah dari estimasi sebelumnya 0,2%. Adapun produk domestik bruto (PDB) AS secara final baru akan dipublikasikan bulan Juni.
Jika sesuai ekspektasi, dollar AS berpotensi tertekan dan membuka ruang penguatan emas jangka pendek. Masih tertekan Alwy Assegaf, analis PT SoeGee Futures, juga menilai, harga emas masih tertekan selama masih bertahan di bawah US$ 1.200 per ons troi.
Selasa malam (26/5), serangkaian data ekonomi AS membukukan hasil positif. Data pesanan barang tahan lama (durable goods order) bulan April tumbuh sesuai prediksi, 0,5%. Penjualan rumah baru bulan April juga tumbuh 6,8% dibandingkan estimasi 5%.
Penguatan dollar kembali didukung tingkat kepercayaan konsumen AS bulan Mei sebesar 95,4 melampaui bulan sebelumnya 94,3. “Setelah harga emas turun, pelaku pasar akan membeli di harga rendah (bargain hunting). Tapi kalau harga naik, hanya sementara,†ungkap Alwy.
Secara teknikal, Ariston bilang, harga di bawah moving average 50, 100 dan 200. Moving average convergence divergence (MACD) berada di area positif dengan garis MACD berada di atas garis nol.
Stochastic di level 28% yang masih membuka ruang penurunan. Sementara relative strength index (RSI) bergerak turun ke level 44%. Ariston memprediksi, harga emas sepekan US$ 1.162-US$ 1.204 per ons troi. Sementara Alwy memprediksi harga emas di level US$ 1.170- US$ 1.214 per ons troi.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2141
JAKARTA. Harga timah berhasil menguat. Tapi harganya berpotensi rawan koreksi, sebab belum ada sentimen positif yang bisa mengangkat harga lebih tinggi.
Mengutip Bloomberg, Rabu (27/5) pukul 11.38 WIB harga timah di London Metal Exchange naik 1,1% menjadi US$ 15.575 per ton. Selama sepekan, harga timah sudah ambruk 2,95%.
Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan, harga timah bangkit akibat dua sentimen positif. Pertama data keuntungan industri China per April 2015 yang naik 2,6% (year on year) menjadi sekitar CNY 479,5 juta.
Kedua data penjualan rumah baru (new home sales) AS per April 2015 tercatat 517.000. Angka ini lebih besar dari estimasi 501.000 rumah dan bulan sebelumnya 484.000 rumah. Maklum AS adalah salah satu konsumen terbesar timah.
Namun kenaikan ini hanya sesaat, harga timah masih rawan jatuh. Salah satu faktornya adalah spekulasi kenaikan suku bunga AS yang masih kuat menghantui harga timah
Sementara, membaiknya data penjualan rumah baru AS dapat memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral Amerika (The Fed) dalam pertemuan Juni 2015 untuk membahas kenaikan bunga. "Kenaikan suku bunga AS di September pun akan dilaksanakan menyusul data AS yang mulai membaik," ujar Ibrahim, kemarin (27/5).
Dari Eropa, masalah utang Yunani masih belum jelas dan turut memperberat laju harga timah. "Ini berpengaruh sekali terhadap permintaan timah Eropa baik dari Indonesia dan Filipina," kata Ibrahim.
Kondisi ekonomi negara konsumen terbesar komoditas timah, yaitu China masih mengalami perlambatan. Langkah Tiongkok tahun ini yang sudah melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak lima kali, dinilai belum membuahkan hasil. "Pasar jadi apatis terhadap pertumbuhan ekonomi China," ujar Ibrahim.
Ia menilai, langkah pemerintah mengetatkan kegiatan ekspor timah lewat Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 33/2015 berlaku per 1 Agustus 2015 belum bisa menjadi sentimen positif bagi harga timah. Ini terbukti dengan tren harga timah selama seminggu.
Dari sisi teknikal, Ibrahim menilai, mayoritas indikator menunjukkan harga timah turun. Moving average dan bollinger band berada 10% di atas bollinger bawah. Stochastic 70% negatif. Sedangkan moving average convergence divergence (MACD) 60% positif. Sementara relative strength index (RSI) cenderung stagnan.
Ibrahim memperkirakan, harga timah Kamis (28/5) akan turun di kisaran US$ 15.380-US$ 15.590 per ton. Selama sepekan harga cenderung tertekan dan akan berada di US$ 14.900-US$ 15.500.

















Semua Berita