Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Fundamental PT Ciputra Development Tbk (CTRA) sepertinya layak untuk diperhatikan. Pasalnya, pengembang ini memiliki model bisnis yang terbilang unik dibanding pemain lainnya.

Felicia Tandiyono, analis J.P Morgan dalam risetnya menjelaskan, metode pembelian properti dengan menggunaan skema pembiayaan secara in-house masih akan berlanjut, bahkan trennya bakal naik pada 2016 mendatang.

Nah, hanya pengembang yang memiliki rasio utang yang rendah dan cash yang kuat yang bisa meladeni skema ini. Dalam hal ini, Felicia melihat CTRA memiliki kemampuan tersebut. CTRA juga memiliki balance sheet yang baik dan tidak terpapar depresiasi rupiah dari sisi utang. "CTRA memiliki bisnis model yang unik," tambahnya.

CTRA juga kecipratan untung dari gencarnya proyek-proyek infrastruktur dari pemerintah, khususnya infrastruktur toll. Seperti diketahui, pemerintah tidak hanya memfokuskan pembangunan ruas tol bukan hanya di Pulau Jawa, tapi juga pulau lainnya.

"Melihat proyek-proyek CTRA yang memiliki cakupan luas diseluruh wilayah Indonesia, kami melihat pembangunan ruas tol itu akan menguntungkan CTRA," tandas Felicia. Setidaknya, average selling price (ASP) proyek-proyek CTRA bakal meningkat.

Felicia memberikan rating overweight. Adapun target harganya sebesar Rp 1.500 per saham.

Catatan saja, Pada kuartal III-2015, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatat peningkatan pendapatan 25,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 5,3 triliun. Perseroan juga berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 935,1 miliar atau naik 6% dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 882,2 miliar.

Reporter Dityasa H Forddanta
Editor Barratut Taqiyyah
CTRA

Narasumber : Kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Perekonomian Indonesia mulai menggeliat pada kuartal III 2015.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2015 sebesar 4,73% secara year on year (YoY).

Pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan kuartal II 2015 hanya 4,67% dan kuartal I 2015 4,72%.

Deputi Kepala BPS Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Suhariyanto menyebut, salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi adalah realisasi belanja pemerintah meningkat yang pesat.

"Belanja barang tumbuh 34,28% dan belanja modal meningkat 58,10%," kata Suhariyanto saat memberikan keterangan pers di kantor BPS, Kamis (5/11).

Reporter Adinda Ade Mustami
Editor Adi Wikanto

Narasumber : Kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Liputan6.com, Jakarta - PT Lion Group berencana mengembangkan Bandara Lebak, Banten sebagai bandara komersial yang lebih besar. Ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Namun rencana tersebut masih tersendat.

‎Direktur Navigasi Penerbangan Direktorat jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Novie Riyanto menjelaskan, sampai saat ini rencana pembangunan bandara tersebut masih mandek. Hal ini dikarenakan ruang udara bandara Lebak jika ingin dikembangkan bakal bersinggungan dengan beberapa bandara lain. "‎Terkait Lebak, di Bandara Soetta, Halim, ini kan juga berkembang, kita tahu Halim ke depan akan jadi pangkalan udara utama TNI AU, ini membutuhkan ruang gerak pesawat udara. Ada Bandara Curug juga, banyak bandara, Lebak ini slotnya agak menyulitkan penggunaan ruang udara lain," kata Novie saat berbincang dengan wartawan di Penang Bistro, Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Namun demikian, Novie masih membuka pintu bagi Lion Group dan mitra pengembangannya untuk menjelaskan dan menawarkan solusi terkait persoalan itu. Jika nantinya kedua belah pihak menemukan solusi, maka tidak ada alasan bagi Kementerian Perhubungan untuk menolak memberikan izin pengembangan bandara.

Hanya saja, Novie menegaskan hal yang paling utama untuk pengembangan industri penerbangan adalah aspek keselamatan. Berbeda dengan moda transportasi lainnya, industri penerbangan, aspek keselamatan adalah harga mati.

"Yang penting pengelola yakinkan ke kita aske keselamatan bisa dikelola dengan baik, artinya dengan adanya bandara Lebak tidak mengurangi tingkat pelayanan keselamatan maskapai yang ada," tegas dia.

Untuk memutuskan hal ini, pihak Kementerian Perhubungan akan mengadakan pertemuan dengan Lion Group dan para pengembangnya pada akhir pekan ini.

Seperti diketahui, pengembangan bandara Lebak ini menjadi salah satu pendukung dalam masterplan pengembangan Kota aerotropolis. Aerotropolis ini merupakan kawasan properti yang memiliki fasilitas bandar udara. Rencananya bandara Lebak ini akan dibangun di atas tanah seluas 7000 hektar (ha)‎. (Yas/Gdn)


By Ilyas Istianur Praditya


Narasumber : Liputan6.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Kontraktor utama engineering, procurement, construction (EPC) 1 Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, yakni Tripatra-Samsung minta pemerintah kenaikan nilai proyek eksploitasi di wilayah kerja ini. Kabarnya, mereka minta proyek saat proyek menang tender Agustus 2011 hanya sebesar US$ 746,3 menjadi US$ 1,3 miliar.

Kepala Sub Bagian Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Elan Biantoro mengatakan,  Tripatra memang sudah berulang kali mengajukan kenaikan nilai  proyek.

Hanya, hingga kini SKK Migas belum memberikan persetujuan karena masih dalam kajian. "Sampai US$ 1,3 miliar, kami belum bisa di bilang sebesar itu karena pengajuan berjalan terus. Kami masih uji, dievaluasi, tidak semua diterima, banyak yang ditolak," terang Elan kepada KONTAN, Senin (2/11).

Ia menyebut, permintaan Tripatra ini normal di tengah perubahan nilai proyek.  Meski belum ada persetujuan, Elan memastikan, ini  tak akan mengganggu produksi Blok Cepu yang  ditargetkan  200.500 barel per hari pada medio November 2015, atau naik dari produksi saat ini baru 80.000 barel per hari.

Elan mengatakan, sebenarnya saat tender, pemerintah memberikan pagu nilai proyek EPC-1 sebesar US$ 980 juta. Adapun Tripatra-Samsung menawarkan nilai US$ 746,3 juta. Ini pula yang  membuat mereka memenangkan tender tersebut.

Hanya saja, di tengah jalan,  kontraktor tersebut mengaku ada aspek yang tidak terprediksi. Misal, soal pembebasan lahan yang seret serta kebijakan pemerintah daerah yang menggunakan sub kontraktor perusahaan di daerah.

Elan mengingatkan, kenaikan nilai kontrak harus tetap sesuai tender yang berlaku yakni tak boleh lebih dari 10% dari penyediaan dana EPC-1 senilai US$ 980 juta. Jika mengacu nilai kontrak lebih dari 10%, pemerintah tak akan menghitung adanya cost recovery atau ongkos pengangkatan minyak. "Itupun kenaikan 10% harus diaudit," ungkap dia.

Senior Vice President Startegic Planning And Operation PT Pertamina Meidawati menyatakan, apapun permintaan Tripatra, mereka tidak boleh telat  menjalankan proyek agar tidak mengganggu produksi minyak. Dengan  waktu yang mepet, "Tak mungkin kami mencari kontraktor baru lagi,"ujarnya.

Sayang Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia Erwin Maryoto enggan memberikan tanggapan soal ini lantaran masih sibuk rapat,

Sedangkan Rewina Isnanto. Assistant Manager, Corporate Communications, PT Indika Energy Tbk, yakni induk usaha Tripatra belum merespon telepon dari KONTAN.

Reporter Pratama Guitarra
Editor Havid Vebri

Narasumber : Kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Harga timah di bursa komoditas Malaysia lanjutkan penurunannya pada sesi perdagangan Kamis siang ini (29/10). Harga timah ambles untuk lima sesi berturut-turut. Harga komoditas logam industri ini terus terpukul meskipun ada sentimen positif yang mendukung terutama dari Tiongkok.

Harga timah yang sempat melejit kencang hingga pertengahan Oktober siang ini tampak meleleh. Permintaan yang makin lesu menjadi alasan anjloknya harga komoditas ini. Ancaman lesunya permintaan masih kuat di pasar logam industri.

Harga timah menerima sentimen negatif di tengah kenaikan nilai tukar dollar AS. Harga komoditas menjadi makin mahal karena proses ekspor-impor umumnya dilakukan menggunakan mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Hari ini tekanan jual terjadi lagi karena para pelaku pasar masih melihat potensi penurunan harga lanjutan. Harga timah di bursa komoditas Malaysia terpantau mengalami penurunan yang signifikan. Harga logam industri ini diperdagangkan pada posisi 15.330 dollar per ton, turun sebesar 150 dollar atau setara dengan 0,97 persen.

Di akhir perdagangan bursa LME Selasa dini hari tadi harga timah berjangka untuk kontrak 3 bulan ke depan juga tampak mengalami penurunan yang signifikan. Harga komoditas tersebut ditutup turun sebesar 205 dollar atau setara dengan 1,33 persen pada posisi 15.200 dollar per ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan harga timah Malaysia pada perdagangan selanjutnya untuk jangka pendek akan menghadapi level resistance kuat di posisi 15.500 dollar dan 15.700 dollar. Akan tetapi jika terjadi retreat dan melemah harga tembaga akan menghadapi level support di 15.200 dollar dan 15.000 dollar.

 

Ika Akbarwati/VMN/VBN/Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens

narasumber kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita