- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2086
JAKARTA. Tahun ini memang tahun berat bagi dunia bisnis, terutama pebisnis alat berat. Toh, PT Jakarta International Machinery Centre (JIMAC Group) optimistis bisnis bisa bangkit semester II. Distributor tunggal alat berat merek SANY itu berharap proyek pemerintah bisa mengangkat kembali penjualan alat berat.
JIMAC memprediksikan pertumbuhan penjualan alat berat di semester II lebih baik ketimbang semester I. Benny Kurniajaya, Chief Executive Officer PT Jakarta International Machinery Centre mengatakan, katalis positif di paruh kedua nanti adalah banyak anggaran pemerintah yang cair. Alhasil, beberapa proyek pemerintah yang belum terealisasi di semester I-2015, dia perkirakan mulai berjalan di semester II-2015.
JIMAC berharap geliat pasar alat berat di semester II nanti bisa menopang target kinerja tahun ini. Hingga akhir 2015, perusahaan tersebut menargetkan pendapatan sama seperti realisasi pendapatan tahun 2014 yakni sebesar US$ 70 juta. "Ini semua karena ekonomi dalam negeri, bertumbuh seperti tahun lalu saja kami sudah bersyukur," ujar Benny kepada KONTAN, Selasa (23/6).
Dari Januari hingga Juni 2015, mereka meyakini bisa menjual 200 unit alat berat dengan nilai penjualan US$ 30 juta. Itu berarti di semester II, JIMAC paling tidak harus mengejar pendapatan US$ 40 juta agar kinerjanya sama dengan tahun 2014.
Sembari tetap memupuk asa memenuhi target kinerja, JIMAC memastikan akan merealisakan rencana pembangunan pabrik. Bersama dengnan SANY Heavy Industries, JIMAC akan meningkatkan kerjasama dari semula distributor dan produsen, menjadi mitra bisnis dalam membikin pabrik alat berat.
JIMAC berniat mendirikan pabrik alat berat merek SANNY yang sudah digulirkan sejak tahun 2014. Namun dengan alasan proses yang cukup panjang, manajemen JIMAC mengaku terpaksa menunda pelaksanaan pembangunan proyek itu pada tahun ini.
Nilai investasi pabrik itu sekitar US$ 200 juta. Lokasinya di atas lahan 15 hektare (ha) di Batam, Kepulauan Riau. "Kami sudah mulai mempersiapkan lahannya, sekarang sudah tahap meratakan tanah," tutur Benny.
Sayang, JIMAC belum membeberkan waktu memulai pembangunan proyek tersebut. Pabrik itu akan memproduksi ekskavator, tandem road rollers dan road machinery. Kapasitas produksinya mencapai sebanyak 2.000 unit alat berat per tahun.
JIMAC menghitung, keberadaan pabrik tersebut bisa meningkatkan pendapatan hingga tiga kali lipat lebih besar dibandingkan sekarang. Pasalnya, pabrik di Batam akan dijadikan sebagai pusat produksi dan distribusi untuk pasar alat berat mereka di Asia Pasifik. Dengan kata lain, JIMAC berpeluang menjual alat berat tak hanya di dalam negeri melainkan juga ke pasar mancanegara.
Impian JIMAC pasca pabrik berdiri, penjualan lokal berkontribusi 70% dan penjualan ekspor berkontribusi 30%. "Semua akan terpusat di sana, termasuk logistiknya, jadi kami tidak perlu menyewa tempat lagi," jelas Benny.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2238
JAKARTA. Harga minyak mulai bangkit. Menipisnya stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) berimbas pada naiknya harga minyak mentah. Mengacu data Bloomberg, Rabu (24/6) pukul 13.14 WIB, harga minyak West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Agustus 2015 naik 0,14% menjadi US$ 61,10. Dalam sepekan harga minyak melaju 1,78%.
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures menjelaskan, kenaikan harga minyak disebabkan berkurangnya pasokan serta persediaan minyak mentah. Ada sinyal bahwa perundingan nuklir antara Iran dengan negara-negara Barat bermasalah. Mengutip Islamic Republic News Agency, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa mereka tidak dapat menerima inspeksi internasional atas lokasi militer dan perbatasan nuklir Iran.
"Kondisi ini membuat sanksi ekspor minyak mentah Irak tidak akan dicabut," ujarnya. Padahal Iran berencana menambah ekspor minyak hingga 1 juta barel per hari dalam kurun enam bulan jika sanksi tersebut telah diangkat.
Lalu berdasarkan data American Petroleum Institute, persediaan minyak mentah mereka akan berkurang sebesar 3,2 juta per 19 Juni 2015. Para analis Bloomberg juga memproyeksikan bahwa stok minyak AS akan terkoreksi hingga 2 juta barel. Sehingga, menurut data Energy Information Administration, persediaan minyak mentah AS per 12 Juni 2015 telah menyusut hingga 467,9 juta.
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2159
Bisnis.com, JAKARTA— Harga CPO di Bursa Malaysia rebound pada Selasa (23/6/2015) setelah kemarin jatuh ke level terendah 3 pekan.
Kontrak berjangka CPO untuk September 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka melejit 1,17% ke harga 2.246 ringgit atau Rp7,97 juta per ton.
Harga tersebut kemudian konsisten diperdagangkan lebih mahal dari level penutupan kemarin pada kisaran 2.233—2.246 ringgit per ton, meski terus tergelincir dari level pembukaan.
Pada pukul 10.22 WIB, CPO diperdagangkan naik 0,50% ke harga 2.231 ringgit atau Rp7,92 juta per ton.
CPO kemarin ditutup melemah 0,76% ke harga 2.220 ringgit per ton, harga terendah untuk kontrak teraktif sejak 29 mei 2015.
Harga komoditas terkait CPO malah tertekan. Harga minyak kedelai di bursa Chicago merosot 0,06% ke US$33,29/pound meski menguat 0,51% di pembukaan, sedangkan harga minyak mentah jenis Brent turun 0,36% ke US$63,11/barel.
Pergerakan Harga Kontrak CPO September 2015
|
Waktu |
Ringgit Malaysia/Ton |
Persentase Perubahan |
|
23/6/2015 (10.22 WIB) |
2.231 |
+0,50% |
|
22/6/2015 |
2.220 |
-0,76% |
|
19/6/2015 |
2.237 |
— |
|
18/6/2015 |
2.237 |
-2,36% |
|
17/6/2015 |
2.291 |
— |
Sumber: Bloomberg
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2217
Bisnis.com, JAKARTA– Harga tembaga dan logam industri lainnya berpotensi menguat seiring data manufaktur China versi HSBC dan Markit Economic pada bulan ini mulai mendekati 50 dan lebih tinggi dari proyeksi. Apalagi, polemik Yunani sudah mengarah ke arah yang lebih positif.
Pada perdagangan hari ini sampai pukul 10:06 WIB, harga tembaga untuk pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 1,9% menjadi US$5.760, sedangkan harga tembaga berjangka di New York Commodity Exchange (Comex) naik 1,83% menjadi US$2,61 per pon atau US$5.742 per ton.
Michael McCharty, CMC Market Asia Pasifik Pty., mengatakan Peformance of Manufacturing Index (PMI) yang mulai mendekati 50 menandakan terjadi pertumbuhan dan menjadi positif untuk harga logam industri.
“Apalagi, dukungan sentimen Yunani yang mulai mendapatkan titik terang untuk lepas dari ancaman defaultnya pada awal perdagangan hari ini melengkapi penguatan harga logam industri termasuk tembaga,†ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Selasa (23/6).
Hari ini, HSBC dan Markit Economic merilis data PMI China untuk bulan ini yang berada di level 49,6. Meskipun masih terkontraksi, tetapi angka itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi ekonom dan analis di level 49,4. Hasil PMI China ini juga lebih tinggi dibandingkan dua bulan sebelumnya.
Sementara itu, aroma positif sudah mulai tampak dalam negosiasi Yunani setelah para pemimpin Eropa menilai Negeri Para Dewa itu serius untuk menyelesaikan polemik utangnya tersebut.
Sebelumnya, Morgan Stanley dan Barclays Plc. Menilai krisis Yunani bisa membawa dampak negatif terhadap harga komoditas logam industri. Pasalnya, krisis di negara Eropa Selatan itu bisa membuat permintaan logam industri terganggu seiring dengan perekonomian zona Euro yang terancam.
Narasumber : bisnis.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2124
JAKARTA. Harga minyak sawit alias crude palm oil (CPO) terkoreksi. Maklum, lonjakan permintaan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan bulan puasa sudah berakhir. Sementara ancaman El Nino tak mampu mengerek harga.
Mengutip Bloomberg, Senin (22/6) pukul 16.00 WIB, harga minyak sawit kontrak pengiriman September 2015 di bursa Malaysia Derivative Exchange senilai RM 2.230 per metrik ton, turun 0,31% dari akhir pekan lalu. Selama sepekan, harga merosot 1,58%.
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, menjelaskan, harga CPO masih bergerak konsolidasi. Penyebab pertama, harga minyak kedelai terkoreksi. Sebagai barang substitusi, penurunan harga minyak kedelai turut menyeret harga CPO.
Kedua, aksi negara-negara pengimpor CPO yang menimbun stok untuk persiapan menjelang Ramadan sudah berlalu. Alhasil, harga CPO yang sempat menanjak ke RM 2.341 pada 5 Juni 2015 akhirnya kembali stabil.
Lonjakan permintaan menjelang bulan puasa terlihat dari laporan Malaysia Palm Oil Board (MPOB) yang menyebut pengiriman CPO per Mei 2015 melesat 37%. Ekspor 1-20 Juni 2015 juga menguat 0,4% secara month to month menjadi 1,07 juta ton.
Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Ariana Nur Akbar menjelaskan, penguatan ringgit Malaysia turut melemahkan harga CPO. Mengacu Bloomberg, kemarin USD/MYR turun 0,25% ke 3,7340. "Orang menahan diri membeli minyak sawit karena mahal," tuturnya.
Ancaman El Nino yang dapat mengganggu produksi sawit kurang berpengaruh pada harga CPO. Sebab, persediaan minyak sawit dunia masih cukup tinggi. Ariana menilai, hingga akhir tahun harga minyak sawit rentan terkoreksi.
Kendati begitu, peluang penguatan harga tetap ada. Permintaan CPO biasanya meningkat di semester II, sebab, ada perayaan hari besar di negara-negara pengimpor CPO, seperti India dan China. Apalagi wacana meningkatkan penggunaan biodiesel semakin marak.
Deddy memprediksi, harga CPO berkesempatan menguat di pengujung tahun. Sebab, ada larangan penggunaan minyak yang mengandung lemak trans di Amerika Serikat. Selain itu, pekerja perkebunan umumnya libur selama bulan Ramadan, sehingga dapat mengganggu produksi CPO.
Secara teknikal Deddy mengatakan harga CPO bergerak di atas moving average (MA) 50, 100 dan 200. Indikator moving average convergence divergence (MACD) masih di area positif 13. Sedangkan relative strength index (RSI) turun ke 46. Stochastic terkoreksi ke area 3.
Deddy menebak, harga minyak sawit Selasa (23/6) akan menguat ke RM 2.200-RM 2.275. Sepekan, harga bergerak di rentang RM 2.250-RM 2.310. Sebaliknya, Ariana memprediksi, harga sepekan ke depan di RM 2.185-RM 2.277 per metrik ton.

















Semua Berita