Tractor-Truck.Com

“Mengapa harus sulit, buang waktu dan biaya serta tenaga untuk mencari Spare Part Alat Berat dan Truk ?”
“Tractor-Truck.Com solusi tepat, cepat, hemat, praktis dan terpercaya mendapatkan Spare Part Alat Berat dan Truk”

 


Kami Tractor-Truck.Com mengucapkan terima kasih atas kunjungannya serta kepercayaan yang telah diberikan oleh Pelanggan yang sudah memanfaatkan fasilitas dan mendapatkan pelayanan dari team marketing kami atas kebutuhan Spare Part, Component & Unit yang berkaitan dengan Alat Berat, Genset & Truk. Bagi para Pengunjung dan Pelanggan Baru juga dapat memanfaatkannya fasilitas ini secara langsung dengan mengirimkan email (klik di sini) marketing@tractor-truck.com atau telpon & sms ke 081288639888 serta facsimile ke 021-85904666.

___________________________ Sudah terbukti serta dapat dipercaya dan diandalkan ___________________________
DAFTAR UNIT YANG DIJUAL



JAKARTA. Harga minyak mentah bangkit menembus level US$ 60 per barel. Minyak terangkat spekulasi kenaikan permintaan dari negara-negara maju. Sedangkan stok minyak Amerika Serikat (AS) susut dan dollar terkoreksi.

Mengacu data Bloomberg, Rabu (10/6) pukul 17.00 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman bulan Juli 2015 senilai US$ 61,43 per barel atau naik 2,14% dibandingkan hari sebelumnya. Selama sepekan, harga terangkat 3%.

Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, menilai, kenaikan harga minyak ditopang oleh penambahan permintaan dari negara-negara maju untuk kebutuhan musim panas sebesar 38.000 barel per hari.

Selain itu, Energy Information Administration (EIA) AS merevisi prediksi kenaikan permintaan minyak dari sebelumnya 340.000 barel menjadi 380.000 barel per hari. Lalu inflasi China bulan Mei 2015 sebesar 1,2% atau lebih baik dari posisi periode sama tahun sebelumnya 1,5%. "Data inflasi Tiongkok yang menguat membuat harga minyak ikut melambung," ujarnya.

Data pasokan dan stok minyak AS turut mengerek harga. American Petroleum Institute menyebutkan, pasokan minyak Negeri Paman Sam terkoreksi 6,7 juta barel per 5 Juni 2015. Seirama, data Bloomberg memperlihatkan, stok minyak mentah AS menciut 1,5 juta barel menjadi 475,9 juta barel pekan lalu.

Depresiasi dollar

Selanjutnya AS akan merilis data stok minyak. Prediksi para analis, stok minyak AS kembali berkurang 1,5 juta barel. Jika proyeksi itu benar, harga minyak kembali naik. Tetapi Deddy mengingatkan, penurunan stok minyak AS diimbangi dengan melubernya pasokan minyak dari negara-negara Timur Tengah dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak alias OPEC.

Iran juga berencana meningkatkan produksi minyak hingga 1 juta barel per hari dalam enam bulan mendatang setelah sanksi internasional terhadap Iran dicabut. Alhasil, kenaikan harga minyak tertahan.

Sementara itu, Wahyu Tri Wibowo, analis PT Central Capital Futures, memandang bahwa kenaikan harga minyak merupakan dampak pelemahan indeks dollar AS. "Data ekonomi AS bagus namun indeks dollar belum bisa menguat. Karena ada isu kuatnya dollar sebagai ancaman ekonomi mulai berasa di Gedung Putih," terangnya.

Rabu (10/6) pukul 16.00 WIB, indeks dollar melemah 0,5% menjadi 94,692. Jika indeks dollar AS kian melemah, maka penguatan harga minyak bisa berlanjut. Secara teknikal Deddy menjelaskan, harga bergerak di atas moving average (MA) 50, 100 dan 200. Stochastic menguat ke level 53. Relative strength index (RSI) di level 58.

Sementara indikator moving verage convergence divergence (MACD) berada di area positif, yakni 0,52. Prediksi Deddy, Kamis (11/6), harga minyak bergerak di kisaran US$ 59,59 sampai US$ 61,5 per barel. Sepekan, harga minyak akan bergulir di US$ 59-US$ 62 per barel.

Sedangkan prediksi Wahyu, harga minyak sepekan ke depan bergerak dalam rentang US$ 56-US$ 64 per barel.

Editor: Barratut Taqiyyah

Narasumber : kontan.co.id

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

JAKARTA. Rupiah kembali melemah akibat spekulasi aksi Bank Sentral Amerika (The Fed) yang akan menaikkan suku bunganya pada September 2015 mendatang. Di pasar spot, Rabu (10/6), rupiah melemah 0,05% dibandingkan hari sebelumnya menjadi Rp 13.315. Beruntung, kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) menguat tipis 0,24% menjadi Rp 13.329.

Agus Chandra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures menilai, melemahnya rupiah masih berasal dari faktor luar negeri yakni penguatan dollar akibat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. "Sebenarnya belum banyak perubahan dari kemarin. Sebagian besar masih dari dollar," ujarnya.

Seirama, Reny Eka Putri, Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk menjelaskan, spekulasi kenaikan suku bunga AS memang masih menjadi faktor utama melemahnya rupiah. Hal ini juga ditunjang oleh rilisnya data perekonomian Negeri Paman Sam yang bagus.

Misalnya saja indeks pertumbuhan manufaktur AS yakni ISM Manufacturing PMI per Mei 2015 yang mencapai 52,8. Angka tersebut melebihi ekspektasi pasar serta lebih tinggi ketimbang posisi bulan sebelumnya yang berkisar 51,5.

Pekan lalu, mereka juga merilis data perubahan data perubahan tenaga kerja di luar sektor pertanian alias Non-Farm Employment Change AS per Mei 2015 yang mencapai 280.000 jiwa, naik ketimbang posisi bulan sebelumnya sebesar 221.000 orang. "Hal ini cenderung membuat investor mengalihkan dananya ke AS," tuturnya. Alhasil, rupiah kembali terkoreksi.

Editor: Yudho Winarto


Narasumber :kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA—Harga CPO anjlok pada awal perdagangan Selasa (9/6/2015) setelah berita standar campuran biodisel baru Malaysia berisiko tinggi terhadap mesin kendaraan bermotor.

Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2015, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, hari ini dibuka anjlok 1,46% ke harga 2.299 ringgit atau Rp8,18 juta per ton.

Harga komoditas tersebut terus bergerak di zona merah dan diperdagangkan turun 1,24% ke 2.304 ringgit atau Rp8,21 juta per ton pada pukul 09.59 WIB.

CEO BMW Group Malaysia, Alan Harris, mengungkapkan risiko kerusakan pada mesin yang menggunakan biodisel jenis B10 yang mulai digunakan pada Oktober 2015.

Pemerintah Malaysia berencana meningkatkan kandungan methyl ester berbasis CPO dalam biodisel menjadi 10% (B10) dari sebelumnya 7% (B7).

Harris, dalam pernyataan pers yang dikutip Bloomberg, mengatakan penelitian di seluruh dunia menunjukkan penggunaan B10 membuat minyak pelumas mengental hingga berisiko menyebabkan kerusakan mesin parah sekaligus menambah tingkat emisi.

Sentimen lain yang berpengaruh pada pergerakan harga CPO adalah apresiasi ringgit yang menguat 0,31% pada pukul 10.22 setelah kemarin anjlok dan pelemahan harga minyak kedelai sebesar 0,12% ke US$34,06/pound.

Pergerakan Harga Kontrak CPO Agustus 2015

Waktu

Ringgit Malaysia/Ton

Perubahan

9/6/2015

(09.59 WIB)

2.304

-1,24%

8/6/2015

2.333

-0,34%

5/6/2015

2.304

-0,65%

4/6/2015

2.319

+1,09%

3/6/2015

2.301

-0,60%

Sumber: Bloomberg


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

NEW YORK. Harga minyak melemah hampir 2% pada Senin lalu, seiring dengan kekhawatiran penurunan permintaan China dan kekhawatiran akan keputusan OPEC untuk terus memompa produksi minyak mentahnya.

Harga minyak mentah AS ditutup melemah 99 sen, atau sekitar 1,67% menjadi US$ 58,14 per barel. Sementara harga minyak Brent turun 50 sen menjadi US$ 62,90 per barel.

Turunnya harga minyak, dipengaruhi oleh langkah China yang merupakan negara net importir minyak mentah terbesar dunia. China menurut laporan resminya pada Senin lalu, telah mengurangi pembelian minyak mentahnya seperempat kali pada Mei 2015 dibandingkan pembelian April 2015.

Para pedagang mengatakan, kilang-kilang minyak di China lebih banyak menggunakan stok minyak mentahnya pada bulan lalu, dibanding melakukan pembelian langsung. Hal itu membuat impor minyak negara Tirai Bambu tersebut menurun.

Selain itu, banyak juga pabrik pengolahan yang berhenti produksi untuk dilakukan pemeliharaan. Sehingga permintaan akan minyak turun. Banyak yang mengatakan penurunan impor minyak China bahkan mencapai 26% month to month, berdasarkan data masuknya minyak sebesar 5,47 juta barel per hari.

"Penurunan impor minyak 4%-6% masih dapat diterima karena memang musim pemeliharaan kilang minyak di China. Namun jika penurunan mencapai 20% itu tanda adanya demand collapse," kata Bob Yawger, Director of energy futures Mizuho Securities USA.

Editor: Uji Agung Santosa
Sumber: Bloomberg


Narasumber : kontan.co.id
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

Bisnis.com, JAKARTA—Harga nikel pagi ini menguat 2,29% ke level 101,65 yuan per metrik ton di bursa Shanghai Futures Exchange akibat data ekonomi China yang kurang menggembirakan mendorong spekulasi pejabat negara itu akan meningkatkan stimulus.

Kemarin (8/6/2015) harga komoditas tersebut menguat 0,43% atau bertengger di level 99,37 yuan per metrik ton.

Penguatan harga nikel tersebut merupakan yang tertinggi dalam kurun hampir tiga pekan.

“Setiap ada penurunan data ekonomi di China akan cocok dengan spekulasi soal stimulus,” ujar Michael Turek, head of base metals BGC Partners Inc. sebagaimana dikutip Bloomberg, Selasa 99/6/2015).

Jika ada stimulus, termasuk pembangunan infrastruktur, maka permintaan atas logam dasar akan naik, ujarnya.


Narasumber : bisnis.com

Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41

 

Anda disini: Home Semua Berita