- Kategori: Berita
- Dibuat pada Rabu, 10 Desember 2014 13:18
- Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41
- Ditulis oleh Administrator
- Dilihat: 1963
JAKARTA. Harga tembaga turun karena kekhawatiran melambatnya permintaan China sebagai pengguna logam industri terbesar di dunia. Kekhawatiran muncul setelah inflasi (CPI) China bulan November melambat menjadi 1,4%, lebih rendah dari prediksi analis 1,6%. Sedangkan Indeks Harga produsen (PPI) turun menjadi -2,7% dari sebelumnya -2,2% .
Data Bloomberg memperlihatkan, Rabu (10/12) pukul 10.00 siang waktu Shanghai, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange sebesar US$ 6.445,25 per metrik ton, turun 0,5% dari hari sebelumnya.
Li Ye, analis Shenyin & Wanguo Futures Co yang berbasis di Shanghai mengatakan pada Bloomberg bahwa rilis CPI dan PPI bulan November menunjukkan ekonomi China masih melambat. “Kami mungkin perlu mengurangi harapan terhadap pertumbuhan konsumsi logam," ujarnya.
Selain data CPI dan PPI, Ibrahim, Analis dan Direktur Equilibirium Komoditi Berjangka menambahkan harga komoditas juga tertekan akibat pengetatan pinjaman jangka pendek di China. “Ini menurunkan harga komoditas,†ujarnya.
Gejolak politik di Yunani jelang pemilihan presiden pada bulan ini ikut menggerus harga tembaga. Maklum, salah satu capres dari partai sosialis menentang bantuan dana moneter internasional (IMF).
Jika partai ini memenangkan pemilihan presiden, maka bantuan dari IMF akan dihentikan sehingga akan terjadi gesekan dalam perekonomian Eropa. Sebab, saat ini utang Uni Eropa sudah mencapai US$ 4 triliun baru dibayarkan bunganya saja akibat krisis yang terjadi di kawasan itu. “Padahal krisis di Eropa awalnya terjadi di Yunani,†jelas Ibrahim.
Kendati harga turun, Ibrahim melihat tembaga masih berpotensi menguat terbatas karena indeks dollar AS dan indeks saham AS turun. Investor akan memanfaatkan situasi ini untuk melakukan aksi beli komoditas.
Secara teknikal, bollinger band dan moving average (MA) 80% berada di atas bollinger bawah mengindikasikan masih akan turun, namun ada potensi menguat karena sudah mendekati bollinger tengah. Stochastic berada di level 60% area negatif mengindikasikan penurunan. RSI di level 65% area negatif. Namun, MACD berada di level 65% area positif.
Ibrahim melihat harga tembaga masih akan turun terbatas, namun akan kembali naik seiring penurunan dollar AS. Ia memprediksi, harga sepekan ke depan di kisaran US$ 6.400,50–US$ 6.500,70 per metrik ton.
Narasumber : kontan.co.id
















