- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3495
"Produk baja keperluan umum yang wajib memenuhi SNI ini adalah produk dalam negeri maupun impor yang beredar di dalam negeri. Pemerintah ingin agar aturan ini bisa melindungi konsumen dan meningkatkan kualitas baja keperluan umum yang diproduksi baik di dalam negeri maupun yang diimpor," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat.
Beleid ini tertuang dalam bentuk Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35/2014 tertanggal 21 Mei 2014. SNI yang diterapkan pada BjKU ini adalah nomor 7614-2010 berlaku untuk baja dengan nomor pos tarif (HS Code) 7214.99.90.90. Penerapan SNI wajib tersebut akan menguntungkan produsen dan konsumen. "Baja seperti ini digunakan untuk keperluan konstruksi penulangan beton," katanya.
Adapun produk baja yang wajib SNI itu adalah baja bukan paduan (baja karbon) berbentuk batang, berpenampang bulat dengan permukaan polos, yang dihasilkan dari proses canai panas atau canai panas ulang.
"Dengan aturan ini pemerintah ingin menekan beredarnya baja keperluan umum yang berkualitas rendah, baik itu produksi dalam negeri maupun impor," ungkapnya.
Hidayat mengakui penerapan SNI tersebut tidak bisa serta merta dilaksanakan. Harus ada jeda waktu untuk melakukan sosialisasi di lapangan. Oleh karena itu aturan ini baru akan berlaku efektif enam bulan sejak tanggal diundangkan, yaitu pada 3 Juni 2014 lalu. “Itu berarti, SNI wajib untuk baja keperluan umum ini baru akan berlaku efektif pada 3 Desember 2014 nanti," tegasnya.
Untuk mendapatkan SNI, produk BjKU perlu mengantongi Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI) dan membubuhkan tanda tersebut di setiap produknya.
“Untuk penerbitan SPPT-SNI ini dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) yang telah ditunjuk Kemenperin dan terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN)," lanjutnya.
Adapun lembaga yang ditunjuk itu, adalah: LSPro Metal Industries Development Center (MIDC) Kemenperin, LSPro LUK Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur BPPT, dan LSPro Baristand Industri Surabaya Kementerian Perindustrian.
"Untuk mendapatkan SPPT-SNI itu harus melengkapi beberapa syarat, di antaranya adalah Surat Keterangan Konsultasi SPPT-SNI dari Dirjen Basis Industri Manufaktur," jelasnya. (wir/che/k15)
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3391
TEMPO.CO, Jakarta - Patokan harga batu bara termal Cina turun ke level terendah sejak tujuh tahun terakhir. Anjloknya harga, antara lain, disebabkan oleh melimpahnya stok di tengah melambatnya perekonomian dalam negeri Cina.
Harga batu bara dengan nilai energi 5.500 kilokalori per kilogram di Pelabuhan Qinhuangdao turun menjadi 500 yuan atau setara US$ 80,60 per metrik ton. "Berdasarkan data dari China Coal Transport and Distribution Association (CCDA) di Beijing, itulah harga terendah sejak Desember 2007," demikian diberitakan Bloomberg.
Penurunan harga batu bara tersebut disebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Cina sehingga mengekang konsumsi batu bara termal di Negeri Tirai Bambu itu. Pasalnya, Cina merupakan pengguna batu bara terbesar di dunia untuk kebutuhan pembangkit listrik dan pelabuhan. Kini stok batu bara di Pelabuhan Qinhuangdao meningkat menjadi 7,34 juta ton dari persediaan pekan lalu yang sekitar 233 ribu ton.
"Harga batu bara mungkin tidak akan pulih hingga September, mengingat puncak penggunaan listrik di Cina telah mengurangi stok batu bara untuk pembangkit listrik," tulis Bloomberg.
Harga terendah batu bara di Cina itu ternyata masih lebih baik dibandingkan harga di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, harga acuan (HBA) per Mei 2014 ialah US$ 73,6 per ton. Banderol itu merupakan harga acuan, tapi harga patokan batu bara (HPB) Marker dengan merek dagang Prima Coal telah menyentuh harga US$ 79,41 per ton.
RAYMUNDUS RIKANG R.W.
Narasumber : tempo.co
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 3091
JAKARTA, KOMPAS.com - PT United Tractors Tbk (UNTR) akan segera mendapatkan tambahan pendapatan di luar penjualan alat berat dan batubara. Anak usaha Grup Astra itu akan memasok 300 unit bus merek Scania kepada PT Transjakarta.
"Itu kapasitas kami untuk memasok Transjakarta per tahunnya, nanti jumlah yang akan kami jual tentunya sesuai permintaan pemerintah provinsi DKI Jakarta," kata Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR di Jakarta, belum lama ini. Kerjasama UNTR dengan PT Transjakarta ini mulai terjalin pada Mei lalu.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama bilang, PT Transjakarta akan menggunakan bus Scania yang didistribusikan oleh UNTR. Basuki menilai, harga bus Scania yang sekitar Rp 5,8 miliar per unit memang lebih mahal dibandingkan bus asal China yang berharga sekitar Rp 1 miliar-Rp 3 miliar per unit. Namun kualitas bus Scania jauh lebih baik ketimbang bus buatan China guna menunjang pelayanan PT Transjakarta.
Beberapa waktu lalu, pengadaan bus asal China memang sempat menyulut amarah Basuki lantaran bus-bus tersebut sudah berkarat sebelum digunakan untuk melayani pengguna Transjakarta.
Kendati begitu, Sara belum bisa memastikan kapan UNTR akan mulai memasok Scania untuk kebutuhan Transjakarta. Saat ini, UNTR sedang menjalani e-tender pengadaan bus Transjakarta yang dilakukan pemerintah provinsi (pemprov) DKI Jakarta.
"Jumlah pengadaan dari pemprov DKI Jakarta belum final, kami berharap dalam waktu dekat sudah mulai memasarkan Scania ke Transjakarta," ungkap Sara. Kerjasama dengan pemprov DKI Jakarta itu tentunya bakal memberikan tambahan pendapatan bagi UNTR.
Hariyanto Wijaya, Analis Mandiri Sekuritas dalam riset yang dirilis 9 Mei 2014 pernah memprediksi, keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tersebut bakal berdampak positif pada kinerja keuangan UNTR di tahun 2015 mendatang.
UNTR, hitung Hariyanto, bakal mendapatkan tambahan laba bersih sekitar Rp 290 miliar di tahun depan dari penjualan sekaligus layanan purna jual bus Scania ke Transjakarta.
Proyeksi ini didasarkan pada dua asumsi. Pertama, UNTR dapat menjual setidaknya 500 unit bus Scania di tahun depan. Kedua, margin bersih penjualan Scania diproyeksikan sekitar 10 persen.
Dengan proyeksi ini, kontribusi bus Scania mencapai 4 persen dari total laba bersih UNTR di tahun depan yang diprediksi Hariyanto senilai Rp 6,35 triliun. Namun, Sara belum mau membeberkan proyeksi internal UNTR dari kerjasama penjualan Scania ke Transjakarta.
"Kita belum bisa prediksi kontribusinya karena jumlah pengadaan yang diminta pemprov DKI Jakarta belum final," kata Sara. Tambahan pendapatan dari Scania akan sangat bermanfaat untuk mengkompensasi penurunan penjualan alat berat UNTR.
Apalagi, di Mei 2014, penjualan alat berat "Komatsu" UNTR masih jauh dari harapan yaitu 324 unit, turun 11,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang 366 unit. Penurunan performa di Mei membuat volume penjualan "Komatsu" sejak awal tahun baru mencapai 1.901 unit.
Jumlah tersebut turun 10,58 persen year-on-year (yoy) dibandingkan lima bulan pertama 2013 yang 2.126 ton. Ambruknya volume penjualan "Komatsu" memang sudah dirasakan UNTR sejak pertengahan 2012 lalu.
Kondisi industri batubara yang melempem menjadi penyebab utama penurunan kinerja UNTR. Ini terlihat jelas dari terus turunnya kontribusi penyerapan sektor pertambangan terhadap total penjualan alat berat UNTR.
Di Januari-Mei 2014, sektor pertambangan tercatat menyerap 36 persen dari total volume penjualan "Komatsu". Bandingkan dengan kontribusi di periode sama tahun lalu yang mencapai 50 persen .
Kamis (10/7/2014) kemarin, harga UNTR ditutup menguat 2,5 persen ke level Rp 24.600 per saham. (Veri Nurhansyah Tragistina)
| Editor | : Erlangga Djumena |
| Sumber | : KONTAN |
Narasumber : kompas.com
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2882
JAKARTA. Penjualan PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI) sepanjang semester satu 2014 tak jauh berbeda jauh dengan pencapaian periode yang sama tahun lalu. Penjualan truk Hino periode ini hanya naik 1,76% jika dibanding periode yang sama 2013.
Terhitung sampai dengan Juni tahun ini, Hino menjual 16.332 unit truk. Penjualan ini naik tipis jika dibandingkan dengan realisasi penjualan periode yang sama tahun lalu sebanyak 16.048 unit.
Santiko Wardoyo, Director Promotion and Sales HMSI bilang, penjualan truk tahun ini memang tengah lesu. "Naik tapi kenaikannya tak besar," kata Santiko, kepada KONTAN, Selasa (8/7).
Walaupun penjualan terbilang stagnan, namun pangsa pasar Hino justru melebihi target perseroan. Untuk truk kategori 2 (series 300), Hino menguasai pangsa pasar 17,2% sepanjang Januari sampai Mei. Padahal tahun ini, Hino mematok target pangsa pasar hanya sekitar 16%.
Begitu pula di kategori truk 3, atau di atas series 300. Sampai dengan Mei tahun ini, pangsa pasar Hino di segmen ini tercatat 64,4%, atau di atas target setahun di angka 60%.
Ada dua penyebab umum yang membuat pasar truk Hino stagnan tahun ini. Pertama, terjadinya penurunan kinerja sektor tambang dan komoditas. Sebagaimana yang diketahui, sektor ini adalah sektor yang paling banyak menggunakan truk.
Kedua, adanya pemilu yang membuat investor mengambil sikap menunggu untuk ekspansi, termasuk menunggu membeli truk baru. Namun Hino tak mau larut dari lesunya pasar komoditas dan tambang tersebut.
Untuk solusinya, Hino melirik segmen pasar truk untuk kargo dan infrastruktur. "Kami menilai, kegiatan di kargo dan infrastruktur masih ramai," kata Santiko.
Selain menyasar pasar baru, Hino juga berusaha mencari konsumen dengan mendatangkan produk baru. Untuk diketahui, bulan Mei lalu, Hino meluncurkan truk Hino FC 190 J yang menyasar segmen pasar light truck dan medium truck.
Sampai Juni ini, penjualan produk baru dari Hino ini mencapai 132 unit. "Produk ini kebanyakan untuk membawa barang ringan seperti makanan," tutup Santiko.
Narasumber : kontan.co.id
- Ditulis oleh Administrator
- Kategori: Berita
- Diperbarui pada 16 Jun 2016
- Dilihat: 2863
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Keinginan pemerintah mengatur arus keluar batubara dari bumi Indonesia agaknya hendak terwujud. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menetapkan 14 pelabuhan yang akan menjadi pelabuhan khusus sebagai pintu gerbang ekspor batubara.
Paul Lubis, Direktur Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM bilang, penentuan pelabuhan khusus itu dilakukan setelah ESDM menggelar pertemuan dengan sejumlah perusahaan maupun pemerintah daerah. "Pekan depan, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara akan bertemu pihak Kementerian Perhubungan untuk finalisasi 14 pelabuhan yang akan ditetapkan sebagai pelabuhan khusus itu," ungkap Paul di Jakarta, Jumat (4/7) kemarin.
Seluruh calon pelabuhan khusus batubara itu tersebar di Sumatra dan Kalimantan. Paul bilang, ESDM menetapkan Kalimantan Timur sebagai provinsi yang paling banyak memiliki pelabuhan khusus karena daerah itu penghasil batubara terbesar di Indonesia.
Asal tahu saja, penunjukan pelabuhan khusus untuk ekspor batubara dilakukan untuk memudahkan pendataan ekspor. Selain itu juga memudahkan pengawasan dan penghitungan potensi pendapatan negara dari ekspor.
Jika tak ada aral melintang, pemerintah ingin pelabuhan khusus ekspor batubara efektif berfungsi mulai tahun 2015 mendatang. Paul bilang, agar proses ekspor lebih tertata, pihaknya akan mengintegrasikan pendataan dengan sistem informasi Mineral and Coal One Map Indonesia (MOMI) yang sekarang masih dalam pengembangan.
Walaupun ESDM sudah memilih pelabuhan khusus itu, namun penetapannya ada di Kementerian Perhubungan. "Kewenangan penetapan pelabuhan khusus itu ada di Kementerian Perhubungan," kata Paul.
Menjawab kebutuhan pelabuhan khusus batubara ini, Bobby R Mamahit, Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan telah memberikan lampu hijau, "Ini terobosan yang bagus dan bertujuan memudahkan pelayanan dan pengawasan," kata Bobby.
Mengenai kapan penetapan pelabuhan khusus itu, Bobby mengaku belum bisa memastikannya. "Kami bahas dulu dengan ESDM," terangnya.
Asal Anda tahu, rencana pemberlakukan pelabuhan khusus ini mendapatkan apresiasi dari Supriatna Sahala, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI). Ia bilang, selama ini banyak pelabuhan kecil yang melakukan aktivitas ilegal mining yang membuat rugi negara. Aktivitas ilegal mining itu diketahui setelah ditemukan selisih pencatatan ekspor batubara yang mencapai 6 juta ton. (Muhammad Yazid/Asnil Bambani Amri)
Narasumber : tribunnews.com

















Semua Berita