Stimulus China bikin harga aluminium bergairah

Kategori: Berita
Dibuat pada Jumat, 12 Jun 2015 14:05
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41
Ditulis oleh Administrator
Dilihat: 1825

JAKARTA. Rumor bahwa Bank Sentral China (PBOC) akan kembali menggelontorkan stimulus mendongkrak harga aluminium. Namun, sebenarnya tengah terjadi tarik menarik sentimen lantaran di sisi lain Bank Dunia baru saja merevisi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2015.

Mengutip Bloomberg, Kamis (11/6) pukul 01.30 waktu Shanghai harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,2% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 1.762 per metrik ton. Selama sepekan harga naik 1,09%.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka menilai, turunnya tingkat Inflasi China di Bulan Mei 2015 mencuatkan rumor bahwa China akan kembali menggelontorkan stimulus moneter untuk menggenjot laju perekonomiannya.

Perlu diketahui data inflasi China per Mei 2015 yang dirilis pada Selasa (9/6) tercatat 1,2%. Perolehan ini lebih rendah dari prediksi sebesar 1,3% dan merosot dari bulan sebelumnya sebesar 1,5%.

Tak hanya itu penguatan harga juga didukung oleh sentimen positif dari data produksi manufaktur China periode Mei 2015 pada Kamis (11/6) yang tercatat 6,1%. Perolehan Ini merupakan momentum kebangkitan dari posisi terlemah sejak 6 tahun yang tercatat pada bulan sebelumnya yaitu sebesar 5,9%.

Ibrahim menambahkan harga alumunium juga tertopang oleh faktor permintaan yang masih tinggi di sektor manufaktur otomotif dan pesawat terbang dari Negara-negara produsen utama seperti Amerika, Eropa, dan China. Kondisi ini berbeda dengan harga komoditas logam lainnya yang cenderung terkoreksi

Namun Ibrahim menilai saat ini tengah terjadi kondisi tarik menarik sentimen. Sebab, di sisi lain Bank Dunia baru saja merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 3,0 % menjadi 2,8%. Mengacu hal tersebut diduga permintaan global untuk komoditas logam termasuk aluminum akan lesu.

Ibrahim menambahkan, momentum penggerak harga aluminium Jumat (12/6) adalah data-data ekonomi AS yang dirilis Kamis (11/6) malam. Adapun data-data tersebut di antaranya adalah data indeks harga ekspor (export price index) yang di prediksi 0,2%, atau tumbuh dari bulan sebelumnya yaitu negatif 0,7% dan data klaim pengangguran (unemployment claims) yang diprediksi sebesar 277.000 ribu orang atau meningkat dari bulan sebelumnya yaitu 276.000 orang.

“Jika data-data ekonomi AS direspon positif oleh pasar maka indeks dollar AS akan menguat dan menahan laju penguatan harga alumunium,” jelas Ibrahim

Kondisi ini tercermin dari indikator teknikal. Ibrahim memaparkan moving average dan Bollinger band berada di level 30% diatas Bollinger tengah. Kondisi tarik menarik tercermin dari kontrasnya dua indikator yaitu moving average convergence divergence (MACD) yang menunjukkan 60% negatif sedangkan stochastic 60% positif. Sementara relative strength index (RSI) cenderung wait and see menunggu data – data ekonomi Amerika.

Mengacu hal tersebut Ibrahim menduga harga aluminium Jumat (12/6) akan berada dalam kisaran US$ 1753 – US$ 1.785 per metrik ton. Selama sepekan harga akan bergerak dalam kisaran US$ 1.745 – US$ 1.800 per metrik ton.

Editor: Yudho Winarto

Narasumber : kontan.co.id

JAKARTA. Rumor bahwa Bank Sentral China (PBOC) akan kembali menggelontorkan stimulus mendongkrak harga aluminium. Namun, sebenarnya tengah terjadi tarik menarik sentimen lantaran di sisi lain Bank Dunia baru saja merevisi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2015.

Mengutip Bloomberg, Kamis (11/6) pukul 01.30 waktu Shanghai harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,2% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 1.762 per metrik ton. Selama sepekan harga naik 1,09%.

Ibrahim, Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka menilai, turunnya tingkat Inflasi China di Bulan Mei 2015 mencuatkan rumor bahwa China akan kembali menggelontorkan stimulus moneter untuk menggenjot laju perekonomiannya.

Perlu diketahui data inflasi China per Mei 2015 yang dirilis pada Selasa (9/6) tercatat 1,2%. Perolehan ini lebih rendah dari prediksi sebesar 1,3% dan merosot dari bulan sebelumnya sebesar 1,5%.

Tak hanya itu penguatan harga juga didukung oleh sentimen positif dari data produksi manufaktur China periode Mei 2015 pada Kamis (11/6) yang tercatat 6,1%. Perolehan Ini merupakan momentum kebangkitan dari posisi terlemah sejak 6 tahun yang tercatat pada bulan sebelumnya yaitu sebesar 5,9%.

Ibrahim menambahkan harga alumunium juga tertopang oleh faktor permintaan yang masih tinggi di sektor manufaktur otomotif dan pesawat terbang dari Negara-negara produsen utama seperti Amerika, Eropa, dan China. Kondisi ini berbeda dengan harga komoditas logam lainnya yang cenderung terkoreksi

Namun Ibrahim menilai saat ini tengah terjadi kondisi tarik menarik sentimen. Sebab, di sisi lain Bank Dunia baru saja merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 3,0 % menjadi 2,8%. Mengacu hal tersebut diduga permintaan global untuk komoditas logam termasuk aluminum akan lesu.

Ibrahim menambahkan, momentum penggerak harga aluminium Jumat (12/6) adalah data-data ekonomi AS yang dirilis Kamis (11/6) malam. Adapun data-data tersebut di antaranya adalah data indeks harga ekspor (export price index) yang di prediksi 0,2%, atau tumbuh dari bulan sebelumnya yaitu negatif 0,7% dan data klaim pengangguran (unemployment claims) yang diprediksi sebesar 277.000 ribu orang atau meningkat dari bulan sebelumnya yaitu 276.000 orang.

“Jika data-data ekonomi AS direspon positif oleh pasar maka indeks dollar AS akan menguat dan menahan laju penguatan harga alumunium,” jelas Ibrahim

Kondisi ini tercermin dari indikator teknikal. Ibrahim memaparkan moving average dan Bollinger band berada di level 30% diatas Bollinger tengah. Kondisi tarik menarik tercermin dari kontrasnya dua indikator yaitu moving average convergence divergence (MACD) yang menunjukkan 60% negatif sedangkan stochastic 60% positif. Sementara relative strength index (RSI) cenderung wait and see menunggu data – data ekonomi Amerika.

Mengacu hal tersebut Ibrahim menduga harga aluminium Jumat (12/6) akan berada dalam kisaran US$ 1753 – US$ 1.785 per metrik ton. Selama sepekan harga akan bergerak dalam kisaran US$ 1.745 – US$ 1.800 per metrik ton.

Editor: Yudho Winarto