Pasar Global Minyak Nabati Suram, Harga CPO Lesu

Kategori: Berita
Dibuat pada Jumat, 20 Februari 2015 10:59
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41
Ditulis oleh Administrator
Dilihat: 2268

Jakarta - Awal tahun 2015 ini merupakan awal yang suram bagi pasar minyak nabati dunia. Menurut laporan badan pangan PBB (FAO), harga minyak nabati dunia, mulai dari minyak biji-bijian hingga minyak sayur mengalami penurunan terendah khususnya minyak sayuran tercatat pada level terendah sejak Oktober 2009.

Jatuhnya harga minyak nabati dunia disebabkan rendahnya permintaan pasar global, pengurangan pasokan ke pasar biodiesel, rendahnya harga minyak mentah dunia dan melimpahnya stok minyak nabati di negara-negara produsen, demikian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam rilis yang diterima redaksi Jumat (20/2).

Harga CPO di pasar global yang terus tergerus tidak mampu mengerek permintaan minyak sawit mentah (CPO) di pasar global. Volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia pada Januari ini menurun 8% dibandingkan dengan ekspor Desember tahun lalu atau dari 1,97 juta ton pada Desember 2014 turun menjadi 1,8 juta ton pada Januari 2015. Jika dibandingkan secara year-on-year, kinerja ekspor CPO dan turunannya mengalami kenaikan sekitar 240.000 ton atau 15% pada Januari 2015 dibandingkan dengan Januari 2014 yaitu sebesar 1,57 juta ton.

Hampir semua pasar utama ekspor Indonesia mengurangi permintaannya pada awal tahun ini. Khususnya volume ekspor ke Tiongkok dan India mengalami penurunan yang signifikan. Volume ekspor CPO dan turunannya ke Tiongkok tercatat turun 40% dari 328,45 ribu ton pada Desember 2014 menjadi 196.840 ton pada Januari 2015.
Disusul India yang membukukan penurunan 39,7% dibandingkan bulan lalu atau dari 494.720 ton pada Desember 2014 menjadi 298.270 ton di Januari 2014.

Penurunan volume ekspor juga dibukukan Amerika Serikat 15%, negara-negara Afrika 8%, Uni Eropa 3,6% dibandingkan dengan volume ekspor bulan lalu.

Peningkatan volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia yang signifikan datang dari Pakistan meskipun dalam hitungan kuantitasnya masih kecil. Pakistan mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 59% atau dari 78.800 ton di Desember 2014 menjadi 125.610 ton di Januari 2015.

Pasar baru, negara Timur Tengah juga mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 9% atau dari 174.360 ton pada Desember 2014 menjadi 190.200 ton di Januari 2015.

Harga rata-rata CPO global sepanjang Januari 2015 hanya mampu bergerak di kisaran US$ 610 – US$ 707,5 per metrik ton. Banjir di Malaysia yang sangat parah sehingga mengganggu panen dan mengurangi pasokan tak mampu mengerek harga, yang justru terjerembab terutama pada pekan terakhir dimana harga tersungkur ke US$ 610 per metrik ton.

Harga rata-rata Januari 2015 adalah US$ 669,6 per metrik ton atau turun 1% dibandingkan harga rata-rata bulan Desember 2014 yaitu US$ 677,6 per metrik ton.
Sementara itu, harga di bulan dua pekan pertama Februari mulai merangkak naik meskipun masih sulit untuk menembus US$ 700 per metrik ton. Sampai pada akhir bulan harga diperkirakan masih akan sulit menembus US$ 700 per metrik ton. Hal ini karena kondisi di Malaysia mulai pulih pasca banjir dan turunnya nilai mata uang Malaysia terhadap dollar, keadaan ini menyulitkan harga CPO pasar global terdongkrak.

GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Oktober akan cenderung bergerak di kisaran harga US$ 650 - US$ 700 per metrik ton. Sementara itu Harga Patokan Ekspor Februari 2014 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar US$ 648 dan Bea Keluar 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar US$ 719.05 per metrik ton. Dengan melihat tren harga CPO global yang menurun dan bergerak dibawah US$ 750 per metrik ton, GAPKI memperkirakan harga Bea Keluar untuk Maret akan tetap 0%.

Penulis: /HA

Sumber:PR


Narasumber : beritasatu.com