Dollar menguat, laba Microsoft turun

Kategori: Berita
Dibuat pada Rabu, 28 Januari 2015 09:40
Diperbarui pada Kamis, 16 Jun 2016 10:41
Ditulis oleh Administrator
Dilihat: 2427

CALIFORNIA. Microsoft Corp mencatat penurunan laba kuartal keempat 2014. Penurunan laba ini dipicu oleh buruknya penjualan personal computer (PC) yang turut menyeret permintaan software Windows. Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) turut menurunkan laba perusahaan software ini.

Maklum, Microsoft memperoleh tiga perempat pendapatan dari luar negeri. Bisnis Windows tertekan dalam tiga tahun terakhir karena penurunan penjualan PC.

Penurunan penjualan PC pada kuartal keempat 2014 mencapai 2,4%. "Lisensi komersial mendapat tantangan, terutama karena nilai tukar dan kondisi makro di China dan Jepang," kata Amy Hood, Direktur Keuangan Microsoft, Senin (26/1).

Lisensi komersial terutama berasal dari penjualan software Windows dan Office ke pelanggan bisnis. Ini merupakan porsi pendapatan terbesar Microsoft. Pendapatan lisensi komersial turun menjadi US$ 10,7 miliar, lebih rendah ketimbang prediksi survei Bloomberg di US$ 10,9 miliar.

Laba Microsoft tercatat turun 10,67% menjadi US$ 5,86 miliar pada kuartal keempat 2014 ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya US$ 6,56 miliar. Padahal, penjualan naik 8% menjadi US$ 26,47 miliar. Peningkatan ini terutama berasal dari hasil akuisisi bisnis handset telepon Nokia tahun lalu.

Angka penjualan ini lebih tinggi ketimbang prediksi analis yang hanya US$ 26,3 miliar. "Meski Microsoft mencapai target di bisnis konsumer dan perangkat, sisi komersial meleset," kata Daniel Ives, analis FBR Capital Markets & Co kepada Bloomberg.

Penjualan positif lain berasal dari program cloud untuk korporasi yang naik lebih dari dua kali lipat. Pendapatan bisnis ini mencapai US$ 5,5 miliar per tahun.

Sebelumnya, Microsoft menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar menurunkan pendapatan hingga 4% pada kuartal ketiga. Penurunan lain adalah peningkatan pajak penjualan di Jepang. Menurut Microsoft, penjualan turun di China, Rusia dan Jepang

Satya Nadella, CEO Microsoft mengatakan, dia akan mengatasi masalah yang menyebabkan penurunan kinerja. Tapi, Nadella enggan mengungkapkan alasan spesifik penurunan permintaan di China. CEO yang baru menjabat setahun ini hanya mengatakan ada masalah geopolitik di China.

Mark Moerdler, analis Sanford C. Berstein & Co mengatakan, ini adalah kode soal investigasi persaingan usaha China atas Microsoft dan Pemerintah China yang menghindari pembelian software Microsoft. Hood mengatakan, tantangan dari ketiga negara tersebut masih berpotensi ada pada kuartal selanjutnya.

Editor: Sanny Cicilia
Sumber: Reuters


Narasumber : kontan.co.id